December 29, 2009
Bells, Bella
Nama asliku adalah Bella. Seperti yang sudah .. ehem, calon suamiku katakan aku masih muda sekali. Informasi dari pemilik kami sebelumnya aku masih berumur dua bulan, sedangkan Eed sudah empat bulan.
Ketika kami berdua sampai di rumah, Buncil sangat kaget dengan bentuk fisikku yang sangat mungil. Aku merasa dia agak sedikit prihatin padaku. Huu. Makanya Buncil berusaha banget memberikan aku vitamin agar cepat besar dan endut. Hihihi.
Meski aku sama hebatnya seperti Eed dalam hal mengigit, aku memiliki satu kelemahan terbesar. Aku sangat penakut tapi sangat penasaran. Aku suka sekali mengikuti kemanapun Eed pergi. Aku suka mencoba suatu hal yang baru. Apa yang Eed lakukan itu pula yang akan aku coba lakukan apalagi ketika Buncil mencoba untuk memegang kami. Huh, kalau Eed tidak yang duluan mengendus menghampiri tangan Buncil, aku engga akan pernah deh dapat kuaci dari Buncil. Hihihi.
Aku tidak tahu mengapa aku sangat penakut. Sedikit saja sesuatu bergerak di sekitar kandang aku sudah panik. Meskipun itu hanya Eed yang berjalan mengikuti aku, aku terkadang suka kaget sendiri. Huh. Pernah, aku dan Eed sedang tidur. Tiba-tiba aja ada Buncil datang untuk mengganti isi racikan kami, aku kaget sekali. Sakit kagetnya aku sampai menginjak-injak Eed yang sedang tertidur. Buncil tertawa-tawa melihatnya, ya ampun ..
Oh iya, aku pernah kabur loh dari kandang! Hihihi. Aku sangat senang memanjat, kebetulan saat itu Buncil menaruh jeruji di dalam kandang sebagai penahan botol minum. Aku sangat antusias memanjat, hingga akhirnya aku berhasil keluar dan berada di atas penutup kandang. Ketika Buncil menemukan aku di atas penutup, Buncil panik banget. Buncil panik, aku pun panik!
Akhirnya aku lompat ke lantai. Wuiih .. kira-kira ada satu meter jauhnya. Untung aku tidak patah tulang, duh. Setelah jatuh ke lantai aku mondar mandir dan mengumpet. Buncil stress tidak bisa menangkap aku. Aku sendiri sedang merasakan kebebasan berada di luar kandang. Hihihi.
Buncil berusaha memancing aku dengan banyak sekali kuaci tapi tidak berhasil karena aku tidak berani menghampiri kuaci-kuaci tersebut. Hingga Buncil menakut-nakutiku, aku pun masuk ke dalam rumah dan langsung berlari ke arah dapur. Hmm..
Di dapur Buncil hampir berhasil menangkapku, tapi aku terlalu lincah dan kembali lepas untuk bersembunyi di balik lemari. Hingga aku pun lari ke arah ruang tamu. Siyalnya ketika lagi mondar mandir di ruang tamu, Buncil menemukan aku. Dengan kerjasama antara Buncil dan Mamanya Buncil, aku tertangkap deh.
Yaaahh ..
