December 29, 2009
Help! Ada Monyong!
Aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba saja ada seekor tikus besar masuk ke dalam kandang kami. Sebagai hamster jantan, aku berusaha untuk melindungi Bells. Meski begitu aku tidak tahu harus berbuat apa, aku sama takutnya dengan Bells. Monyong –kami menyebutnya– mondar mandir ke sana kemari mengacaukan isi kandang kami. Tolong, dimana Buncil?
Monyong geludak geluduk di daerah tempat makan dan kinciran kami. Kami berdua tidak bisa berbuat apa-apa, kami sangat takut akan kehadirannya. Tertolong dengan pipa yang diberikan Buncil untuk kami bermain sebagai tempat kami sembunyi. Aku dan Bells duduk terdiam, tidak bisa tidur. Kami takut kalau sewaktu-waktu Monyong tersebut masuk ke dalam pipa dan melahap kami. Hiks.
Kami tak tahan, kami terlalu takut tapi tidak ada pertolongan sedikit pun.
Hingga kakak dari Buncil mendatangi kandang kami karena merasa ada yang aneh dengan suaranya. Biasanya kami bermain tidak pernah seribut itu, berbeda dengan si Monyong yang sangat kasar. Ketika kakaknya Buncil membuka penutup kandang kami, kakaknya Buncil kaget dan sedikit teriak. Teriakannya membuat Monyong panik dan segera pergi dari kandang kami. Huhu. Aku dan Bells masih syok jadi kami masih terdiam di tempat kami berada hingga Buncil datang.
Awalnya Buncil tidak percaya bila ada Monyong di dalam kandang kami, karena dia yakin sekali penutupnya tidak berbolong. Hingga akhirnya dia melihat ada banyak poops yang ditinggalkan oleh si Monyong. Beberapa diantaranya ada di kinciran dan tempat makan. Ih, jorok!
Menyadari hal tersebut, Buncil langsung memeriksa dan mencari kami berada. Buncil merasa lega ketika melihat kami masih utuh berada di dalam pipa dan sedih sekali ketika Buncil menyentuh kami, kami tidak bergerak. Aku tahu pasti Buncil mengira kami berdua mati, padahal tidak. Kami masih hidup tetapi kami syok. Jadi kami dia saja ketika Buncil mencolek-colek kami berdua.
Akhirnya Buncil memindahkan kami ke kandang kecil dan mencuci kandang kami yang kemasukan si Monyong. Buncil marah-marah dan kesal, tapi lega karena kami masih hidup. Sebelum mencuci kandang, Buncil memeriksa aku dan Bells satu persatu. Takut kami terluka. Untung saja kami sehat walafiat, hanya psikologis kami sajah agak terganggu. Aku mengkhawatirkan Bells.
Ketika kandang kami selesai dicuci, kami langsung menempati kandang baru kami. Buncil mengatur isi kandang dengan berbeda dari sebelumnya. Kami senang sekali, cukup lama kami mondar-mandir untuk menyesuaikan diri kami dengan pengaturan yang baru. Serbuknya bersih, makanan cukup (ada beberapa kuaci di dalamnya), botol minum bercampur vitamin, dan rumah baru yang lebih besar dari rumah jamur. Mungkin ini agar aku dan Bells bisa tidur berduaan. Hihihi.
Setelah puas mengelilingi kandang yang baru dicuci, kami mulai tidur kembali. Insting kami akan ketakutan kami sebelumnya membuat kami memilih tidur di dalam pipa-pipa yang disediakan Buncil di dalam. Seharian kami tidak pernah keluar dari pipa. Buncil merasa khawatir dengan kami yang tidak mau keluar dari pipa dan merasa sedih akan ketakutan kami yang masih saja berkepanjangan. Kami masih terlalu takut Buncil untuk tidur di luar.
Oleh karena itu, ketika malam hari Buncil memberikan kami banyak tauge sebagai pengganti minum kami. Dan memindahkan tempat makan kami dekat dengan pipa agar kami mudah menjangkaunya tidak perlu jauh-jauh. Maaf merepotkan ya, Buncil.
Saking haus dan lapar, tauge pemberian Buncil langsung ludes kami serbu. Hihihi.