February 20, 2010
Satu Keluarga Hamster Meninggal Dunia
Aku sudah jarang menulis tentang mereka. Tentu saja banyak hal menyenangkan yang aku alami bersama mereka. Waktu yang membunuhku dalam menulis. Hingga pada akhirnya .. aku tidak akan pernah menulis lagi tentang mereka.
Kemarin malam, aku bermain bersama Bells dan mendapati dia mengandung bayi hamster. Hati ini begitu senang riang gembira. Antusias yang menggebu-gebu dan deg-degan seperti seorang ibu yang mau melahirkan. Esoknya paginya Bells melahirkan dengan sukses tiga bayi hamster dan kemudian meninggal. Aku tak tahu mengapa dia meninggal. Kemungkinan besar stress. Tanpa asupan ASI dari Bells, anak-anaknya pun ikutan meninggal.
Malam hari berikutnya, Eed sudah dipindahkan ke kandang lain yang lebih bersih. Eed yang biasanya tidak mau berlama-lama di tanganku. Mendadak sangat mudah untuk dipegang. Diajak bermain. Dan tentu saja aku membatin, Tuhan, aku akan menjaga dia. Dengan segala mukjizat, Eed sudah bisa diajak bermain dengan tangan tanpa merasa takut.
Aku pun mengajak Eed tidur sekamar. Kandang dia aku taruh persis disampingku. Dan esoknya .. dia pun meninggal.
Terlepas dari pikiranku berkata, Tuhan mengapa?
Dan baru aku sadari jawabannya. Hamster adalah hewan peliharaan yang memiliki hubungan tersendiri dengan pemeliharanya. Mereka tahu kapan mereka akan meninggal. Dan mereka akan selalu meninggal di depan pemeliharanya. Mereka akan menunjukkan apa yang terbaik dari mereka sebagai tanda perpisahan sebelum mereka meninggalkan kita.
It’s hurt. But that’s what happen.
I’m crying so loud.
Goodbye Bells, goodbye Eed.
Goodbye Babies: Eric, Sookie, and Lafayette.
I love you and always love you.
:(( :(( :((
–Buncil